Hello, again…

Halo semua… *dadah-dadah*
Bertemu lagi dengan saya setelah sekian lama tak berjumpa. *nyengir* Yak, akhirnya saya muncul kembali dengan domain baru ini. Ada apa dengan domain yang lama? Domain sibungsu.com direbut orang Jepang dikarenakan saya dan Tuan lupa memperpanjang. Kami berusaha untuk meminta supaya domain tersebut dikembalikan, tapi sayangnya usaha kami tak berbuah keberhasilan. Jadi, untuk menghibur hati yang sedih, kami pun membeli domain baru.

Kemana aja Utet, lama banget menghilang dari blog? Singkat cerita, karena ge-gaya-an punya kesibukan ini itu membuat saya tidak sempat lagi untuk menulis. Hingga akhirnya baru sekarang ini muncul lagi semangat untuk menulis. Selain kembali semangat untuk menulis, saya juga semangat lagi buat motret. Kok bisa? Ini berkat kegiatan mengajar yang saya lakukan bersama teman-teman saya sebulan yang lalu di PKBM HIMMATA (Plumpang, Jakarta Utara). Di acara tersebut, saya diberi tugas untuk mendokumentasikan acara. Pegang kamera lagi setelah sekian lama, senangnya bukan main! Di bawah ini merupakan beberapa foto dari acara tersebut. Selain itu beberapa saya upload juga disini.

Minggu lalu saya main ke Bogor. Selagi Tuan bertemu temannya, saya memutuskan untuk berhenti di pasar dan mencari objek untuk bisa difoto, tapi sayang sekali tidak banyak yang bisa saya dapatkan, hanya dua foto yang lumayan untuk dipajang.
Oiya, selain ke pasar, saya juga mencoba untuk belajar food photography. Berbekal gelas-gelas lucu yang baru saya beli dan cookies stock cemilan di rumah, akhirnya jadilah foto ini. :)

Sekian dulu deh pembukaan domain baru ini, semoga saya bisa sering menulis lagi. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. :)

Perahu Kertas Itu…

Saya bingung harus memulai dari mana. Sudah lama saya ga nulis, jari ini rasanya kaku, otakpun beku. Mati rasa, cuma itu kata itu yang menurut saya pantas diucapkan untuk saya sekarang ini. Intensitas menulis saya jauh lebih menurun. Saya tidak lebih rajin menulis dibandingkan saat saya menulis di blog gratisan dengan tulisan abal-abal yang penuh kesan anak SMA. Padahal di ‘rumah’ saya yang sekarang ini, yang tidak lagi gratisan, yang dibuatkan dengan sepenuh hati oleh Tuan, seharusnya saya lebih banyak menulis dibandingkan sebelumnya.

Dan sore ini, *dengan PC pinjaman* saya mencoba untuk menulis lagi di rumah saya ini. Semuanya berkat Perahu Kertas:)

Semalam, entah apa yang merasuki saya sampai akhirnya saya menyentuh juga novel yang telah saya beli lima hari yang lalu. Novel yang selama lima hari kemarin selalu ada di dalam tas saya kemana pun saya pergi. Novel yang selama lima hari kemarin saya biarkan saja tanpa tersentuh. Perahu Kertas.

Novel setebal 444 halaman karangan Dewi Lestari (Dee) itu saya habiskan dalam waktu lima setengah jam. Ini pertama kalinya saya menyelesaikan novel setebal itu dalam waktu singkat. Biasanya saya bisa memakan waktu 1-2 minggu, atau bahkan sampai 3 minggu bila kuliah menyita banyak waktu saya.

Saya mempunyai semua novel karangan Dee, mulai dari Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh; Supernova: Akar; Supernova: Petir; Filosopi Kopi; Rectoverso; dan Perahu Kertas. Ya, saya menggilai novel-novelnya semenjak pertama kalinya saya membaca Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh *pinjaman*. dan sejak saat itulah saya jatuh cinta pada hasil karya Dee.

Perahu Kertas. Novel ini lebih ‘ringan’ dibandingkan novel-novel Dee sebelumnya. Namun jangan salah, novel ini membuat emosi saya teraduk-aduk semalam. Sebentar saya dibuatnya tersenyum, namun tak lama saya dibuatnya feelin’ blue yang membuat saya tak ingin berhenti membaca jika sampai cerita dalam novel itu selesai. Maaf, saya tidak akan memberikan review atau sinopsis novel ini karena kalian bisa membacanya di sini. Saya hanya ingin berbagi bagaimana novel ini membuat saya rindu untuk menulis lagi di ‘rumah’ saya ini.

Thank’s, Dee
Thank’s for the inspiration… :)


Nina Need You

Saya baru saja menerima email dari seorang sahabat. Saya terkejut. Tak biasanya ia mengirim email selarut ini. Biasanya dia sudah tidur nyenyak, larut bersama mimpi-mimpi yang sering diceritakannya pada saya.

 

I need someone! I really need a shoulder to cry on  :(
I really hate people who aggravate the situation, although she knew the situation there is not good.
I really hate people who make him feel guilty and cry.
And the most I hate is people who try to damage the happiness of others.

 

Saya bergegas mengambil handphone, mencari namanya. Kita panggil saja, Nina.

Saya hanya menunggu sekali nada panggil sebelum mendengar tangisannya. Saya biarkan, saya dengarkan Nina menangis, karena saya tahu teman saya itu tidak akan berbicara sampai dia benar-benar bisa menghentikan tangisannya.

Lima menit saya menunggu, sampai akhirnya dia menceritakan apa yang telah terjadi sebelum dia mengirim email yang saya terima. Rupanya tentang si pacar. Beberapa hari yang lalu si pacar telah melakukan sesuatu hal yang membuat Nina marah, dan bahkan si pacar mengakui sendiri bahwa dia salah.

Lalu kenapa Nina menangis kalo si pacar sudah mengakui kesalahannya dan masalahnya telah dibicarakan baik-baik? Saya pun menanyakan hal itu. Nina bilang, dia masih sering teringat apa yang telah dilakukan si pacar terhadapnya.

“Forgiven but unforgotten.” kata-kata itu yang paling saya ingat. *the corrs banget ya :D *

Nina bilang, si pacar berusaha meyakinkannya, dan berharap Nina mau percaya kepadanya, bahwa ia tidak bermaksud untuk menyakiti hati Nina. Bahkan, si pacar menangis. Si pacar sangat menyesal melakukan kesalahan itu.

Saya tahu, teman saya itu tidak tahan melihat orang yang sangat disayanginya menangis. Jika hal itu terjadi, maka dia akan ikut menangis dan mengumpat-umpat sendiri orang yang telah membuat siapapun yang disayanginya menangis, di dalam kamarnya.

Saya berusaha menghibur Nina. Hampir dua jam kami bercerita ngalor-ngidul. Saya hanya berharap telpon saya bisa membantu mengembalikan senyumnya yang sempat hilang karena permasalahan ini.

Dan ini, kata-kata terakhir yang saya bilang ke Nina sebelum saya menutup telpon. Saya berharap bisa membuatnya tersenyum sebelum ia terlelap. :D

 

“She can try to take him out or tempt him, but she should remember that she will never be able to make him leave you alone.”

 

IMG00201-20090815-0238x

Belanda… Oh Belanda…

Melanjutkan kuliah di luar negeri?? Siapa yang tidak tergiur dengan tawaran yang satu ini… Angan-angan yang menurut saya paling “gress” dalam hidup saya, salah satunya adalah melanjutkan kuliah di negeri orang.

Beberapa dosen yang telah melanjutkan kuliah di negara lain yang membuat saya berangan-angan untuk dapat melanjutkan kuliah di luar sana. Kisah-kisah kehidupan mereka yang saya dengar di beberapa kelas benar-benar mengusik keingintahuan bagaimana rasanya menjalani kehidupan mahasiswa di luar Indonesia sana. Ditambah lagi cerita-cerita yang dilontarkan Bapak manusia koper tersayang itu selama ia menjalani kuliah di negeri orang. waaaahh tambah ngiler deh… :P

Dari sekian banyak negara yang ada di muka bumi ini, negara yang paling sering muncul dalam benak saya jika saya ditanyai negara mana yang akan saya tuju jika saya berkesempatan pergi ke luar negeri adalah Belanda. Walaupun negara ini pernah menjajah Indonesia selama kurang lebih 3,5 abad, bukan berarti saya tidak boleh bermimpi untuk mengunjungi negara ini kan :P

Menurut saya, negara ini pantas untuk menjadi referensi negara yang dikunjungi. Terlebih lagi bila dikunjungi pada akhir Maret hingga awal Mei. Pada bulan-bulan ini, mata kita akan dimanjakan dengan berbagai warna di banyak taman bunga yang bisa dijumpai di sana. *doh, mau kuliah apa liat tulip sih?* :mrgreen:

Cantik yaaaahhhh... ;)

*gambar dipinjam dari sini*

Selain terkenal dengan tulip, keju, kincir angin, Belanda merupakan salah satu negara yang dituju untuk melanjutkan kuliah. Berdasarkan hasil yang saya dapat dari berguru di pertapaan simbah yang maha tahu ini, saya mendapatkan banyak sekali hal-hal menarik terkait dengan informasi pendidikan di Belanda.

Sistem pendidikannya yang memang terkenal baik-lah yang membuat Belanda dikunjungi calon-calon mahasiswa dari berbagai negara. Ditambah lagi, sejak tahun 1950an, Belanda telah menawarkan pendidikan dalam Bahasa Inggris. Dan semenjak itu pula bahasa Inggris menjadi bahasa kedua di Belanda. Program ini dimaksudkan agar memudahkan calon-calon mahasiswa yang berasal dari luar negeri yang tidak fasih menggunakan bahasa Belanda, namun ingin melanjutkan kuliah di sana.

Bayangkan, hanya dengan kuliah di Belanda, kita bisa bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara. Jadi, bisa hemat donk :lol: , ga perlu keliling dunia untuk bertemu dengan orang India, Jepang, Cina, Perancis, Amerika, Australia, dan negara-negara lainnya. *tambah ngiler …*

Kriyis dan teman-temannya di Belanda

Kriyis bersama teman-teman-2

*Foto dipinjam dari Facebook-nya Kriyis*

Saya tidak dapat membayangkan bagaimana senangnya saya jika hidup di dalam lingkungan yang terdiri dari berbagai macam budaya di negeri orang. Lha, wong bergabung bersama mereka yang terdiri dari berbagai suku di Indonesia saja, saya mendapat begitu banyak teman, manfaat, pengetahuan dan hal-hal lain yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya, apalagi dengan mereka yang datang dari berbagai belahan dunia. ;)

Ayo ke Belandaaaa… Biar bisa merasakan bagaimana rasanya hidup dengan berbagai macam kultur dari seluruh dunia. Siapa tahu bisa ketemu offline dengan teman-teman dari negeri orang yang ada di dalam list plurk, facebook, atau jejaring sosial lainnya. :D Ada yang mau jadi sponsor saya?? *mupeng* :mrgreen:

Perempuan Air

Tak pernah terlintas di benakku untuk mengenal perempuan air itu. Ia yang selalu terlihat di tepian danau air mata ketika senja turun perlahan. Ia yang selalu berdiri mengenakan selendang sutra mambang ketika bianglala hadir menghiasi ngarai di mana ia tinggal.

Seperti sore-sore sebelumnya, perempuan air itu sudah duduk manis menunggu saat-saat rawi tenggelam. Selalu ada dua cangkir teh di meja berandanya itu, tapi tak pernah aku melihat seorangpun menemaninya.

Senja kala itu mendung, sama seperti mendung yang tampak memayungi wajahnya. Dan, wajah piraunya-lah yang membawaku menghampirinya.

“Adakah yang kau tunggu, Puan?” aku memberanikan diri bertanya.

Perempuan air itu diam. Aku cukup tahu diri bahwa kehadiranku tak diharap. Aku baru saja memutuskan untuk pulang ketika suaranya serindai terdengar, memintaku untuk singgah.

“Singgahlah, temani aku minum teh senja ini…”

Tak lama ia mulai bercerita tentang lelaki pawaka yang membuatnya masygul. Lelaki yang hanya datang untuk mengantarkan perempuan air kembali ke peraduan mimpi. Membantunya menyingkap kabut gelap yang selama ini menyembunyikan senyumnya dari sang rawi selama ini.

Sampai di satu senja, di mana musim baru saja berganti, perempuan air harus menelan kenyataan pahit bahwa ia kembali sendiri. Pagi-pagi benar lelaki pawaka telah meninggalkan sepucuk surat di kursi beranda, di mana mereka menghabiskan senja selama ini. Dalam suratnya, lelaki pawaka mengatakan bahwa ia harus pergi untuk mengejar kembali mimpi-mimpinya yang sempat tertunda. Ia pun berjanji untuk kembali menemani perempuan air menghabiskan seluruh senja di hidupnya.

Kini, ketika musim penghujan hampir datang lagi, tak satu senjapun lelaki pawaka datang mengunjungi perempuan air. Malam nanti, tepat limapuluh purnama perempuan air menantinya. Ia memang tak pernah tahu kapan lelaki pawaka akan datang. Ia hanya terus berharap bahwa lelaki pawaka akan datang di setiap senja yang dimilikinya.

Tahulah aku sekarang, mengapa ia selalu menyediakan dua cangkir teh di berandanya. Ia hanya ingin selalu siap, kalau-kalau lelaki pawaka datang tanpa memberi kabar.

Ah, andai aku menjadi lelaki pawaka, aku pasti akan lekas pulang, merebahkan diri ke pangkuan, dan sesegera mungkin melabuhkan hati ke tatapan yang hangat itu.

Suara Ipang menemani langkahku menjauhi dangau itu. Adakah lelaki pawaka mendengar lagu ini? Tahukah ia, perempuan air melangut sendiri?

“Di tengah keramaian
Suara riuh rendahnya dunia
Dan kurasa sangat sepi
Hanya suaramu ingin kudengar di kesunyian ini
Dan memecah keheningannya

Kemanapun aku pergi
Tiada tempat bisa menghiburku
Akupun semakin sepi
Hangat pelukmu ingin kurasa di malam yang dingin ini
Dan memecah kebekuannya

Takkan pernah kuberpikir berpaling darimu
Walau kesepian menyiksa
Tak sedikit ku merasa lelah denganmu
Walau kau tak ada di sini

Di antara banyaknya manusia
Berpasangan dan berbagi rasa
Aku hanya menyaksikan
Hanya dirimu yang aku tunggu
Sampai kini ku bertahan
Dan menerima kenyataan

Takkan pernah kuberpikir berpaling darimu
Walau kesepian menyiksa
Tak sedikit ku merasa lelah denganmu
Walau kau tak ada disini…“