Ndableg

Ndableg‘… mungkin itu kata yang tepat untuk diucapkan kepada saya hari ini. Ndableg yang merupakan bahasa Jawa itu digunakan kepada seseorang yang sudah diberikan nasihat, tapi masih membandel juga. Terimakasih Sandal, Mba Med, dan Nico yang sudah membantu memberikan arti yang mudah dipahami ;) Lalu, kenapa kata itu tepat buat saya? Ya, karena saya ndableg! Halah, malah muter-muter jadinya :P

Jadi gini ceritanya, tadi pagi penyakit lama saya itu kambuh lagi. Selama tiga tahun terakhir ini, memang beberapa kali sakit, tetapi tidak separah kemarin pagi. Kronologisnya begini, kemarin pagi ketika saya bangun, saya sudah mulai ‘anyang-anyangan’. Anyang-anyangan itu apa ya bahasa Indonesia-nya, saya juga bingung, bahasa Indonesia itu sulit lho :P

Kalau pada saat anyang-anyangan, yang dirasa itu seperti mau buang air kecil, tapi susah dan agak sakit. Nah, kemarin pagi itu, yang saya rasa bukan agak sakit lagi, melainkan sangat sakit. Saya pikir hanya anyang-anyangan biasa dan akan hilang beberapa saat kalau saya minum air putih agak banyak. Saya pun berisap-siap berangkat kuliah, karena memang ada kelas manajemen stratejik pagi itu.

Ketika sampai di kelas, rasa sakitnya tak kunjung mereda. Duduk saya jadi serba salah, karena memang rasa sakitnya makin menjadi, ditambah lagi saya ingin sekali buang air kecil. Sang dosen yang sedang rewel membuat saya harus menahan selama setengah jam untuk tidak pergi ke toilet. Pada saat saya buang air kecil, rasa sakitnya semakin menjadi-jadi karena air seni saya tidak bisa lancar keluar seperti biasanya. Sekembalinya saya ke kelas, saya langsung menghubungi bapak saya sambil menangis karena saya tidak kuat lagi menahan sakit. Bapak saya menganjurkan supaya saya memeriksakan diri ke dokter pagi itu juga. Sang dosen yang sudah melihat saya menangis pun mengizinkan saya untuk meninggalkan kelas.

Dengan diantar seorang teman, saya pergi ke salah satu rumah sakit swasta di mana dokter urologi saya membuka praktek. Namun, sesampainya di sana saya mendapatkan informasi bahwa sang dokter sudah tak membuka praktek di sana, dan parahnya lagi dokter urologi penggantinya sedang cuti dan pergi ke Belanda. Untungnya karyawan rumah sakit tersebut memberikan informasi di mana dokter lama saya itu membuka praktek, tanpa banyak babibu, saya mendatangi tempatnya yang ternyata sebuah rumah sakit urologi. Rumah sakitnya memang rumah sakit kecil, tapi karena dokter saya ini merupakan dokter lama yang saya percaya jadilah saya tetap memeriksakan diri di sana, ditambah lagi dokter urologi yang pernah memeriksa saya di Lampung memberikan referensi dokter tersebut kalau-kalau saya harus berobat di Jogja.

Sesampainya di rumah sakit urologi, saya tidak dapat menemui sang dokter karena beliau masih berada di rumah sakit umum kebanggaan kota ini *halah*. Jadi mau tak mau saya harus menunggu sampai jam setengah dua belas. Sambil menunggu saya diperiksa oleh dokter jaga karena saya tidak kuat lagi menahan sakitnya. Dokter jaga pun melakukan USG, dan hasilnya anak dalam kandungan saya laki-laki dia melihat ada bayangan di ginjal saya yang dicurigai batu. Namun, dokter jaga belum bisa memastikan karena dia hanya dokter jaga, dan saya harus menunggu dokter spesialis memeriksa untuk memberikan kepastiannya. Selain itu dokter jaga juga menyuntikkan obat penghilang nyeri supaya saya tidak terlalu kesakitan.

Akhirnya sang dokter urologi pun datang jam setengah dua belas lewat, dan saya langsung diperiksa. Bagian pinggang kanan belakang dan perut sebelah kanan pun kembali menjadi sasaran USG. Dan tak lama kemudian dokter urologi pun memberitahukan bahwa memang ada batu kecil yang terletak di antara piala ginjal dan saluran ureter, sehingga membuat saya merasa nyeri ketika buang air kecil. Kaget? Tentu saja tidak, dari gejala yang saya alami sepagian itu saya sudah bisa menebak bahwa batu ginjal saya membesar dibandingkan tiga tahun yang lalu.

Lalu apa hubungannya dengan ndableg? Sejak tiga tahun lalu, ketika mengetahui bahwa ada batu di ginjal saya, orang tua dan orang-orang terdekat saya tak henti-hentinya mengingatkan untuk minum air putih yang cukup. Namun, karena saya ndableg, saya tidak mengindahkan semua nasehat-nasehat itu. Dan hasil dari ke-ndableg-an saya ini berujung pada ESWL yang dilakukan pada saya yang dijadwalkan siang ini.

Beruntungnya tindakan yang dilakukan kepada saya hanya ESWL untuk memecahkan batu di ginjal saya. Saya tak perlu mengalami apa yang namanya operasi. Cukup tidur manis dan menikmati tembakan gelombang suara ultrasonik. Pada awal saya masuk ruangan ESWL, saya merasa takut, karena melihat alat ESWL tersebut. namun, setelah proses ESWL berjalan, rasa takut saya berkurang karena yang terasa di kulit hanya seperti dijepret karet. ESWL hanya berlangsung lima belas menit, dokter bilang hanya seribu tembakan karena batu di ginjal saya tidak terlalu besar. Pasien sebelum saya harus ditembak lima ribu kali karena ukuran batu mencapai 7 cm. Setelah selesai, saya harus menunggu 1,5 sampai 2 jam untuk melihat jikalau ada efek samping yang dirasakan.

051120091223

foto diambil oleh Tuan.

Setelah 2 jam tidak ada efek samping yang saya rasakan, saya diperbolehkan pulang. Tetapi saya diharuskan kontrol lagi ke dokter hari selasa depan untuk melihat perkembangannya. :)

Ayo jangan pada ndableg kayak saya, minum air putih yang banyak yaaahhh… :)

blue-glasswater_1

gambar dipinjam dari sini