First Year

Harusnya tulisan ini di-posting senin malam yang lalu, tapi apa daya tangan tak sampai *halah*

Sudah setahun rupanya :)

Happy birthday, Fivo!
Biarlah kerikil-kerikil yang membuat langkah kita sesekali tersandung setahun kemarin menjadikan kita lebih mengerti satu sama lain :)
Biarlah sukacita yang hadir di tengah kita setahun kemarin menjadi sukacita bagi orang di sekitar kita :)
Dan biarlah hanya Bapa saja yang mendengar apa yang menjadi harapan kita :)

Love you, Dear… *hugs and kisses*

Kesedihan Bumi Andalas

Kuliah saya yang penuh seharian ini membuat saya tidak bisa menyempatkan diri untuk melihat tayangan berita di televisi. Saya hanya mengikuti perkembangan berita gempa bumi di Sumatra Barat dari twitter, milis, dan beberapa link yang diberikan teman-teman, itupun saya lakukan dengan diam-diam tanpa sepengetahuan dosen. Sore ini begitu pulang kuliah, saya yang mampir di kost Tuan untuk membangunkannya supaya berangkat kuliah, menyempatkan menonton berita dan meminjam PC dan koneksi untuk mem-posting tulisan ini.

Kalau kemarin berita-berita yang saya lihat di televisi lebih banyak menayangkan kepanikan penduduk dan bangunan-bangunan yang rubuh yang disebabkan gempa berkekuatan 7.6 SR kemarin sore, hari ini, berita di berbagai stasiun televisi dalam negeri penuh dengan evakuasi korban. Melihat tayangan-tayangan evakuasi di Hotel Ambacang, Hotel Bumi Minang, Bimbingan belajar Gama dan STBA Prayoga membuat dada saya sesak dan air mata saya pun mengalir begitu saja tanpa bisa saya tahan. Sungguh, saya tak sanggup menahan sedih.

Bagaimana saya bisa menahan air mata saya melihat bagian-bagian tubuh dari anak-anak yang menjadi korban berusaha dikeluarkan dari reruntuhan gedung Bimbingan Belajar Gama. Gedung bimbingan berlantai tiga benar-benar runtuh dan tak berbentuk. Setelah dua puluh-an siswa sudah dievakuasi dalam kondisi tak bernyawa, diperkirakan masih enam puluh siswa yang masih terjebak di reruntuhan tersebut.
Ini baru satu reruntuhan, bagaimana di reruntuhan yang lain? Di tempat-tempat yang susah untuk dijangkau? :(

Rumah Sakit M. Jamil tak mampu menampung korban luka. Mereka diletakkan di lantai, di tenda-tenda darurat, ditanggulangi dengan peralatan medis seadanya. Hujan deras yang turun membasahi bumi Andalas itu pun menambah kepedihan mereka. Ruang jenazah yang juga tak mampu menampung, membuat jenazah-jenazah yang terus berdatangan diletakkan di selasar di sekitar ruang jenazah.

Salah seorang teman saya di kelas, Dimas, bertempat tinggal di Padang. Dia yang memang belum kembali ke Jogja setelah libur lebaran ini. Saya dan teman-teman berusaha berusaha menghubungi, namun karena jaringan komunikasi yang memang terputus membuat kami belum mendapatkan kabar sedikitpun tentang Dimas dan keluarga. Saya dan teman-teman hanya berharap yang terbaik baginya.

Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya bagi para korban dan mereka yang ditinggalkan dalam musibah Gempa Bumi di Sumatera Barat, 30 September 2009.

hugs_people

gambar dipinjam dari sini