Kecewa Berat

Kemarin malam saya dan Tuan ikut serta dalam kemeriahan nonton KCB ( Ketika Cinta Bertasbih) 2 bersama jelata. P.E.N.A.S.A.R.A.N. Itu yang memang menjadi alasan utama saya menonton film ini. Bukan karena tidak alasan tidak ada film lain yang lebih baik, atau hanya sekedar menghaiskan sisa-sisa hari sebelum saya pulang ke rumah untuk berlibur. Lalu, penasaran sama apanya? Jujur, saya belum pernah menonton KCB 1, jadi saya ngga tahu gimana awal mula cerita film ini. Namun, setelah mendengar komentar beberapa dari jelata yang telah nonton bareng KCB 1, saya tertarik ingin menontonnya. Lalu, apa yang bikin tertarik? Ah, silahkan kalian baca di sini, sini, sini, sini dan sini. :P

Lalu, sekarang saya mau buat review-nya? Ngga juga :mrgreen: beberapa teman saya telah membuatnya, tak perlulah saya menambahkannya lagi ;) Saya cuma ingin mengungkapkan kekecewaan saya pada film ini. Saya ngga suka film ini, akting beberapa pemainnya (aktor dan aktris pendatang baru) kurang begitu baik memainkan perannya. Selain itu, menurut saya ada beberapa bagian cerita dalam film ini yang berlebihan dan ngga masuk akal. Satu-satunya yang menurut saya bagus dalam film ini adalah akting Dedy Mizwar. Mungkin karena aktor senior kali yaaa… :D

Saya takut, pada saat nanti UU perfilman benar-benar diimplementasikan. Terutama tentang penayangan 60% film Indonesia dari seluruh jam tayang yang bioskop. Apakah film-film yang ditayangkan akan memeiliki kualitas yang sama seperti KCB 2 ini? Apakah film-film yang bernuansakan hantu-hantu dan komedi yang *menurut saya* dibuat setengah hati hanya untuk mencari profit jangka pendek akan semakin banyak?

Saya sebagai penonton saja sedihnya bukan main atas disahkannya UU perfilman ini, bagaimana mereka-mereka yang benar-benar ingin menjadikan perfilman Indonesia lebih maju, memiliki kualitas yang bisa diadu di kancah perfilman internasional? :( Ah, mungkin anggota DPR punya jawabannya… :|

Pulang Bawa Dasi

Ngga kerasa udah mau pulang lagi ke Lampung hari sabtu ini. :P Padahal belum ada sebulan yang lalu saya pulang ke rumah. Kalau kepulangan terakhir saya kemarin karena libur pergantian trimester, pulang kali ini karena libur lebaran. Dalam setahun saya bisa pulang ke rumah 4-5 kali *anak kost macam apa sebentar-sebentar pulang* :D

Kalau ditanya apa yang menyenangkan di rumah sehingga saya sering pulang, saya juga malah bingung sendiri. Wong di rumah saya juga sangat jarang berpergian. Maunya sih keluar sama temen-temen SMA, reuni sama temen-temen SMP, SD, atau bahkan TK. Tapi apa mau dikata, seringnya sih janji-janji bertemu berakhir pada permintaan maaf. Aktivitas kami yang sudah berbeda-beda, jadwal libur yang tidak lagi sama, belum lagi papa dan mama yang riwil minta diantar ke sana ke sini, mengharuskan saya untuk betah di rumah.

Satu-satunya hiburan paling yahud kalo pas di rumah adalah si Setan kecil. :D Biasanya saya merengek ke mama, supaya beliau mau menjemput si setan kecil untuk dibawa ke rumah :mrgreen: Biasanya kalo ngga riwil, semua permintaan terpenuhi, dia akan bertahan di rumah dari pagi sampai malam :P Seharian saya bisa bermain bersamanya, naik turun tangga di rumah, berantem-beranteman di kamar mama, mengajaknya membeli es krim, atau membeli martabak :P

Liburan kemarin saya ngga bawa apa-apa untuknya, tapi kepulangan kali ini, saya membawa dasi-dasi kecil ini buat si Setan Kecil. Semoga dia mau memakainya, biar tambah ganteng :D

CIMG6766

Perahu Kertas Itu…

Saya bingung harus memulai dari mana. Sudah lama saya ga nulis, jari ini rasanya kaku, otakpun beku. Mati rasa, cuma itu kata itu yang menurut saya pantas diucapkan untuk saya sekarang ini. Intensitas menulis saya jauh lebih menurun. Saya tidak lebih rajin menulis dibandingkan saat saya menulis di blog gratisan dengan tulisan abal-abal yang penuh kesan anak SMA. Padahal di ‘rumah’ saya yang sekarang ini, yang tidak lagi gratisan, yang dibuatkan dengan sepenuh hati oleh Tuan, seharusnya saya lebih banyak menulis dibandingkan sebelumnya.

Dan sore ini, *dengan PC pinjaman* saya mencoba untuk menulis lagi di rumah saya ini. Semuanya berkat Perahu Kertas:)

Semalam, entah apa yang merasuki saya sampai akhirnya saya menyentuh juga novel yang telah saya beli lima hari yang lalu. Novel yang selama lima hari kemarin selalu ada di dalam tas saya kemana pun saya pergi. Novel yang selama lima hari kemarin saya biarkan saja tanpa tersentuh. Perahu Kertas.

Novel setebal 444 halaman karangan Dewi Lestari (Dee) itu saya habiskan dalam waktu lima setengah jam. Ini pertama kalinya saya menyelesaikan novel setebal itu dalam waktu singkat. Biasanya saya bisa memakan waktu 1-2 minggu, atau bahkan sampai 3 minggu bila kuliah menyita banyak waktu saya.

Saya mempunyai semua novel karangan Dee, mulai dari Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh; Supernova: Akar; Supernova: Petir; Filosopi Kopi; Rectoverso; dan Perahu Kertas. Ya, saya menggilai novel-novelnya semenjak pertama kalinya saya membaca Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh *pinjaman*. dan sejak saat itulah saya jatuh cinta pada hasil karya Dee.

Perahu Kertas. Novel ini lebih ‘ringan’ dibandingkan novel-novel Dee sebelumnya. Namun jangan salah, novel ini membuat emosi saya teraduk-aduk semalam. Sebentar saya dibuatnya tersenyum, namun tak lama saya dibuatnya feelin’ blue yang membuat saya tak ingin berhenti membaca jika sampai cerita dalam novel itu selesai. Maaf, saya tidak akan memberikan review atau sinopsis novel ini karena kalian bisa membacanya di sini. Saya hanya ingin berbagi bagaimana novel ini membuat saya rindu untuk menulis lagi di ‘rumah’ saya ini.

Thank’s, Dee
Thank’s for the inspiration… :)