Nina Need You

Saya baru saja menerima email dari seorang sahabat. Saya terkejut. Tak biasanya ia mengirim email selarut ini. Biasanya dia sudah tidur nyenyak, larut bersama mimpi-mimpi yang sering diceritakannya pada saya.

 

I need someone! I really need a shoulder to cry on  :(
I really hate people who aggravate the situation, although she knew the situation there is not good.
I really hate people who make him feel guilty and cry.
And the most I hate is people who try to damage the happiness of others.

 

Saya bergegas mengambil handphone, mencari namanya. Kita panggil saja, Nina.

Saya hanya menunggu sekali nada panggil sebelum mendengar tangisannya. Saya biarkan, saya dengarkan Nina menangis, karena saya tahu teman saya itu tidak akan berbicara sampai dia benar-benar bisa menghentikan tangisannya.

Lima menit saya menunggu, sampai akhirnya dia menceritakan apa yang telah terjadi sebelum dia mengirim email yang saya terima. Rupanya tentang si pacar. Beberapa hari yang lalu si pacar telah melakukan sesuatu hal yang membuat Nina marah, dan bahkan si pacar mengakui sendiri bahwa dia salah.

Lalu kenapa Nina menangis kalo si pacar sudah mengakui kesalahannya dan masalahnya telah dibicarakan baik-baik? Saya pun menanyakan hal itu. Nina bilang, dia masih sering teringat apa yang telah dilakukan si pacar terhadapnya.

“Forgiven but unforgotten.” kata-kata itu yang paling saya ingat. *the corrs banget ya :D *

Nina bilang, si pacar berusaha meyakinkannya, dan berharap Nina mau percaya kepadanya, bahwa ia tidak bermaksud untuk menyakiti hati Nina. Bahkan, si pacar menangis. Si pacar sangat menyesal melakukan kesalahan itu.

Saya tahu, teman saya itu tidak tahan melihat orang yang sangat disayanginya menangis. Jika hal itu terjadi, maka dia akan ikut menangis dan mengumpat-umpat sendiri orang yang telah membuat siapapun yang disayanginya menangis, di dalam kamarnya.

Saya berusaha menghibur Nina. Hampir dua jam kami bercerita ngalor-ngidul. Saya hanya berharap telpon saya bisa membantu mengembalikan senyumnya yang sempat hilang karena permasalahan ini.

Dan ini, kata-kata terakhir yang saya bilang ke Nina sebelum saya menutup telpon. Saya berharap bisa membuatnya tersenyum sebelum ia terlelap. :D

 

“She can try to take him out or tempt him, but she should remember that she will never be able to make him leave you alone.”

 

IMG00201-20090815-0238x