Maut itu Untung

easter2007

gambar dipinjem dari sini

Apa arti Paskah buat kamu? Adakah sepenggal cerita istimewa tentang Paskah, sehingga membuatmu tak bisa melupakan hari itu?

Buat saya, Paskah akan selalu membawa ingatan saya kembali ke beberapa belas tahun yang lalu. Di satu siang yang tak begitu terik, percakapan kecil terjadi antara saya dan mama yang kala itu menemani saya untuk tidur siang.

Saya     : Ma, kenapa utet dikasih nama Novita Kristiana Hutabarat?
Mama : Novita itu karena kamu lahir bulan November. Kristiana, karena kamu akan bertumbuh dalam Kristen. Hutabarat itu kan marga papa.
Saya   : Ooohhh… Terus kenapa kakak namanya Erlinawati Pascarina Hutabarat? Kan kakak lahirnya bulan April, namanya koq ga ada April-nya?
Mama  : Nama Erlinawati itu ya dapet begitu aja. Pascarina itu karena dulu pas kakak lahir berdekatan dengan hari Paskah.

Dan obrolan itu pun berlanjut ke hal-hal kecil tentang aktivitas saya di sekolah. Lalu, apa yang saya ingat dari obrolan singkat itu setelahnya? Sejak saat itu setiap hari Paskah tiba, saya selalu teringat kakak. Tidak pernah terlewatkan, wajahnya selalu terlintas di benak saya, bahkan sampai hari ini.

Hal lain yang membuat Paskah begitu berarti buat saya karena Paskah merupakan pertemuan terakhir saya dengan kakak. Bulan April 2004, saya melaksanakan baptis sidi tepat seminggu sebelum hari Paskah. Kakak yang memang kebetulan libur kuliah pun pulang ke rumah untuk hadir dalam baptis sidi tersebut. Seperti biasa, ia pulang dengan membawa keriangan yang luar biasa sehingga rumah pun terasa lebih ramai.

Malam itu, pada saat ia akan kembali ke Jakarta, saya tidak memberikan peluk hangat atau bahkan merelakan pipi ini untuk diciumnya, karena saya yakin dalam sebulan ke depan kami akan bertemu lagi. Ia hanya tersenyum lebar memperlihatkan sederet gigi-gigi putihnya itu. Saya tidak pernah menyangka, senyum yang saya lihat hari itu merupakan yang terakhir saya lihat.

Jumat, 21 Mei 2004

Malam itu diadakan ibadah penghiburan di rumah. Suasana rumah memang masih menunjukkan kesedihan yang luar biasa karena keluarga ini baru saja kehilangan seorang anak perempuan yang sangat dikasihi. Saya berusaha duduk tegar di luar rumah bersama teman-teman yang tak henti menghibur karena saya selalu menitikkan air mata. Khotbah pendeta malam itu pun tak satu kalimat pun singgah di kepala saya. Nyanyi-nyanyian kidung jemaat terdengar datar di telinga saya. Saya merasa kosong hingga malam itu.

Sepulangnya tamu-tamu, saya hanya duduk diam di beranda atas rumah saya. Tak ada yang saya lakukan sampai setengah jam, sampai saya melihat tata ibadah penghiburan tadi. Saya membuka halaman demi halaman, dan menemukan satu puisi di sana. Barisan kata-kata itu menghentak saya, mencoba mengajak saya untuk dapat merelakan kepergiannya, demi kehidupan yang lebih baik lagi bersamaNya…

Maut itu Untung

Kematian adalah duka
merobek, mencabik
menyelesaikan kesementaraan;
pisah terakhir tak lagi berujung hampa
dalam hidup di bumi ini;

Kematian adalah ratapan
raung tangis kehilangan

karena yang pergi tak kembali lagi
di kekinian waktu yang selalu memburu;

Kematian adalah kepunahan
jasad fana keinsanian
yang berasal dari debu tanah
melenyap seperti uap;

Tapi bagi kita,
maut adalah untung:
yang ditabur dalam kebinasaan,
dihidupkan dalam kekekalan,
disemai dalam kehinaan,
ditumbuhkan dalam kemuliaan,
ditanam dalam kelemahan,
dibangkitkan dalam kekuatan;
hanya dalam sekejap saja
semua akan diubah
kita,
kau dan aku
pewaris hidup kekal;
yang tersisa hanya cinta!

-Dr. Fridolin Ukur-