Sahabat itu…

Teringat tulisan Tuan yang ini, saya jadi teringat dua orang perempuan yang saya kenal hampir delapan tahun ini. Lama? Ah, tidak juga. Kami memang dipertemukan pada saat pertama kali kami merasakan indahnya menjadi seorang siswi SMA, tapi saya merasa peristiwa itu baru terjadi setahun yang lalu.

Diah Lusita Sari dan Diaswuri Prawulaningsih. Dua perempuan ini yang membuat dunia SMA saya menjadi lebih berwarna, bahkan sampai detik ini. Saya tidak pernah menyangka akan sedekat ini dengan mereka berdua. Tidak hanya mereka, bahkan orang tua kami pun saling mengenal. Saling kunjung mengunjungi jika hari raya masing-masing tiba.

Tahun pertama di SMA, saya memang tidak sekelas dengan mereka berdua, akan tetapi kami saling mengenal satu sama lain. Hal ini disebabkan karena kelas kami yang bersebelahan, membuat kami sering bertemu di depan kelas ketika kami menghabiskan jam istirahat. Pada tahun itu, kami hanya sebatas bertegur sapa dan tak banyak waktu kami habiskan bersama.

Memasuki tahun kedua, saya terdaftar pada satu kelas yang hampir semua muridnya bukan berasal dari kelas saya sebelumnya. Bingung? Pastinya! Karena pada hari pertama di kelas 2 tersebut saya harus menentukan siapa yang akan duduk satu meja dengan saya selama satu tahun ke depan. Sekali salah pilih, maka hidup saya selama satu tahun ke depan akan suram *maaf, sepertinya ini agak berlebihan* :P

Pagi itu saya datang agak terlambat. Teman-teman saya yang lain telah menemukan tempat duduk paling strategis menurut mereka masing-masing, ditambah lagi teman satu meja sudah mereka dapatkan. Hal pertama yang saya lakukan pagi itu adalah mencari tempat duduk. Setelah mendapatkan tempat duduk, lantas apa? Harusnya saya mencari teman satu meja, tapi berhubung belum ada wajah yang saya kenal di ruangan itu. Ditambah lagi, mereka semua sudah memiliki teman satu meja.

Saya yang memang sedari dulu mudah panik, mulai bingung mencari siapa yang akan mengisi hari-hari saya selama tahun ke depan. Dias yang mengetahui kepanikan saya, mulai menyapa.

“Lo belum dapet temen, bew?” *’bew’, kependekan dari Jebew, nama panggilan teman-teman SMA saya*

“Eerrr… Belum. Bingung nih…” saya menjawabnya sambil meringis *baca:berharap dicarikan teman*

“Tunggu aja. Lusi bentar lagi juga dateng, kayaknya dia belum dapet temen juga deh.”

Wuuuiiiihhh… Hati saya langsung adem ayem mendengarnya. Senyum mengembang dengan lebarnya di wajah saya. Tak lama, datang juga perempuan yang saya nanti-nanti. Tanpa babibu, langsung saya tanya apakah dia bersedia duduk satu meja dengan saya. Karena tidak ada pilihan lain, jadilah dia duduk dengan saya selama satu tahun itu.

Kedekatan saya dengan Dias dan Lusi berawal dari satu aktivitas yang kami ikuti bersama di sekolah. Panjat dinding. Eits, jangan tertawa dulu. Tentu saja ini bukan panjat dinding yang bertujuan agar siswa-siswi semakin mahir melompati tembok belakang sekolah untuk bolos. Ini adalah olahraga panjat dinding yang kala itu sedang mencari atlit-atlit unutk diberangkatkan pada PRAPON 2004 di Palembang. Berhubung pada saat itu kami bertiga penasaran bagaimana rasanya memanjat tebing-tebing tiruan itu, jadilah kami tercebur dalam kegiatan itu sampai pertengahan kelas 3.

Satu tahun yang saya kira berjalan dengan baik, ternyata tak semulus yang saya harapkan. Saya dan Lusi beberapa terlibat perselisihan kecil yang membuat kami saling berdiam diri. Akan tetapi, ini tidak berlangsung lama. Karena memang masalah yang timbul hanya sebatas salah paham. Jika kami berdua sudah saling diam, tinggalah Dias yang akan repot mendamaikan kami.

Tahun ketiga, saya dan Lusi mendapatkan kelas yang sama, jadi tak pelak lagi kami pun duduk bersama. Sayang, di tahun terakhir ini kami berpisah kelas dengan Dias. Tapi ini bukan berarti kami tidak bisa dekat, justru sebaliknya. Kami lebih sering bersama, ke kantin bersama, pulang sekolah bersama, dan tentu saja bolos bersama. :mrgreen:

Kuliah membuat kami semakin terpisah lebih jauh. Terlebih lagi, saya harus menempuh kuliah di Jogja *sampai dua tahun ke depan nanti*. Kami hilang kontak? Tentu saja tidak. Apa gunanya teknologi canggih yang namanya telpon genggam itu :D Hampir semua perbincangan kami lakukan melalui telpon, dan pesan singkat. Jika saya pulang ke rumah, sudah dapat dipastikan, mereka berdua akan menginap di rumah saya, dan kami pun menghabiskan waktu berjam-jam untuk saling bercerita *bergosip* tentang diri masing-masing. :P

Itulah mereka, yang sampai hari ini selalu ada buat saya, begitu juga sebaliknya. Saya berharap, kami bisa terus berjodoh sampai kami dipisahkan kematian. :)

Pagi…

Aku selalu suka pagi.
Waktu yang tepat untuk menyendiri.

Aku selalu suka pagi.
Waktu yang tepat untuk melihat malam berganti.

Aku selalu suka pagi.
Waktu yang tepat untuk mendengarkan burung bernyanyi.

Aku selalu suka pagi.
Waktu yang tepat untuk menyaksikan rutinitas yang seakan tak pernah berhenti.

Dan, aku akan selalu suka pagi.
Waktu yang tepat untuk melihat senyummu yang menghias mimpi.

Love you, Dad…

Untuk dia…

Seorang laki-laki,
seorang anak,
seorang suami,
seorang abang,
seorang adik,
dan
seorang bapak…

“Selamat Ulang Tahun, Pa…”
“Tuhan memberkati di setiap langkahmu…”
“Tuhan memberikan kesehatan di setiap harimu…”
“Tuhan memberikan sukacita di hari tuamu…
“Tuhan memakaimu dalam setiap rencana besar-Nya…”

“Utet sayang Papa…”

*hugs and kisses*

Belanda… Oh Belanda…

Melanjutkan kuliah di luar negeri?? Siapa yang tidak tergiur dengan tawaran yang satu ini… Angan-angan yang menurut saya paling “gress” dalam hidup saya, salah satunya adalah melanjutkan kuliah di negeri orang.

Beberapa dosen yang telah melanjutkan kuliah di negara lain yang membuat saya berangan-angan untuk dapat melanjutkan kuliah di luar sana. Kisah-kisah kehidupan mereka yang saya dengar di beberapa kelas benar-benar mengusik keingintahuan bagaimana rasanya menjalani kehidupan mahasiswa di luar Indonesia sana. Ditambah lagi cerita-cerita yang dilontarkan Bapak manusia koper tersayang itu selama ia menjalani kuliah di negeri orang. waaaahh tambah ngiler deh… :P

Dari sekian banyak negara yang ada di muka bumi ini, negara yang paling sering muncul dalam benak saya jika saya ditanyai negara mana yang akan saya tuju jika saya berkesempatan pergi ke luar negeri adalah Belanda. Walaupun negara ini pernah menjajah Indonesia selama kurang lebih 3,5 abad, bukan berarti saya tidak boleh bermimpi untuk mengunjungi negara ini kan :P

Menurut saya, negara ini pantas untuk menjadi referensi negara yang dikunjungi. Terlebih lagi bila dikunjungi pada akhir Maret hingga awal Mei. Pada bulan-bulan ini, mata kita akan dimanjakan dengan berbagai warna di banyak taman bunga yang bisa dijumpai di sana. *doh, mau kuliah apa liat tulip sih?* :mrgreen:

Cantik yaaaahhhh... ;)

*gambar dipinjam dari sini*

Selain terkenal dengan tulip, keju, kincir angin, Belanda merupakan salah satu negara yang dituju untuk melanjutkan kuliah. Berdasarkan hasil yang saya dapat dari berguru di pertapaan simbah yang maha tahu ini, saya mendapatkan banyak sekali hal-hal menarik terkait dengan informasi pendidikan di Belanda.

Sistem pendidikannya yang memang terkenal baik-lah yang membuat Belanda dikunjungi calon-calon mahasiswa dari berbagai negara. Ditambah lagi, sejak tahun 1950an, Belanda telah menawarkan pendidikan dalam Bahasa Inggris. Dan semenjak itu pula bahasa Inggris menjadi bahasa kedua di Belanda. Program ini dimaksudkan agar memudahkan calon-calon mahasiswa yang berasal dari luar negeri yang tidak fasih menggunakan bahasa Belanda, namun ingin melanjutkan kuliah di sana.

Bayangkan, hanya dengan kuliah di Belanda, kita bisa bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara. Jadi, bisa hemat donk :lol: , ga perlu keliling dunia untuk bertemu dengan orang India, Jepang, Cina, Perancis, Amerika, Australia, dan negara-negara lainnya. *tambah ngiler …*

Kriyis dan teman-temannya di Belanda

Kriyis bersama teman-teman-2

*Foto dipinjam dari Facebook-nya Kriyis*

Saya tidak dapat membayangkan bagaimana senangnya saya jika hidup di dalam lingkungan yang terdiri dari berbagai macam budaya di negeri orang. Lha, wong bergabung bersama mereka yang terdiri dari berbagai suku di Indonesia saja, saya mendapat begitu banyak teman, manfaat, pengetahuan dan hal-hal lain yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya, apalagi dengan mereka yang datang dari berbagai belahan dunia. ;)

Ayo ke Belandaaaa… Biar bisa merasakan bagaimana rasanya hidup dengan berbagai macam kultur dari seluruh dunia. Siapa tahu bisa ketemu offline dengan teman-teman dari negeri orang yang ada di dalam list plurk, facebook, atau jejaring sosial lainnya. :D Ada yang mau jadi sponsor saya?? *mupeng* :mrgreen:

Karimun Jawa-Part Two

Minggu pagi. Saya sudah bangun dari jam tujuh pagi. Hari itu kami mengunjungi pulau-pulau di sekitar Karimun Jawa. Dengan ditemani Pak Yanto, jam setengah 9 kami berangkat menuju dermaga. Kapal yang akan mengantar kami ternyata sudah menunggu sejak jam 8. Nelayan yang mengantarkan kami ternyata baru pertama kali mengantarkan tamu berkeliling ke pulau-pulau, namanya Pak Mustakin.

baru beranjak dari dermaga
baru beranjak dari dermaga
Tuan dan Pak Mustakin
Tuan dan Pak Mustakin

Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Cemara besar, di pulau ini kami snorkeling hanya sebentar. Kami banyak menghabiskan waktu untuk narsis dengan kamera. Saya suka sekali pulau ini, pasir putihnya itu yang membuat saya jatuh cinta pada pulau ini.

Tuan di Pulau Cemara Besar
Tuan di Pulau Cemara Besar
Nyonya di Pulau Cemara Besar
Nyonya di Pulau Cemara Besar

Pulau kedua, Pulau Ujung Gelam. Pulau ini tak sebesar Cemara besar, pasirnya pun tak seputih di sana. Di pulau ini terdapat batu-batu karang besar di pinggir pantainya. Di Pulau ini, kami hanya snorkeling sebentar dan kembali narsis dengan kamera.

Di Pulau Ujung Gelam
Di Pulau Ujung Gelam
di pinggir pantai Pulau Ujung Gelam
di pinggir pantai Pulau Ujung Gelam
Mau snorkeling di pantai sekitar Pulau Ujung Gelam
Mau snorkeling di sekitar Pulau Ujung Gelam

Pulau ketiga, Pulau Menjangan Kecil. Di pulau ini, kami sebenarnya harus membayar Rp10.000,- per orang. Namun, karena ada seorang tetangga pak Mustakin yang ada di sana waktu itu, jadilah kami tidak perlu membayar. Pulau ini memiliki pasir putih yang cukup indah, namun tidak lebih indah seperti di Cemara Besar.

berteduh sejenak di Menjangan kecil
biarpun kulit mulai perih, Tuan tetap saja main-main di pinggir Pantai Menjangan Kecil

biarpun kulit mulai perih, Tuan tetap saja main-main di pinggir Pantai Menjangan Kecil

Pulau terakhir yang kami kunjungi adalah Pulau Menjangan Besar. Di pulau ini kami tidak turun ke darat. Kami hanya melihat penangkaran hiu di pinggiran pantai. Kami harus melalui jembatan-jembatan apung untuk mencapai ke rumah nelayan yang memiliki penangkaran ikan hiu tersebut. Selain ikan hiu, terdapat juga satu ekor barakuda, satu ekor ikan buntal, dua bintang laut dan beberapa ikan hias. Ikan-ikan tersebut kebanyakan ditangkap dengan menggunakan pancing, kecuali ikan hias.

Tempat penangkaran dipisah menjadi dua, satu tempat khusus ikan hiu, dan tempat yang satunya ikan hiu yang terdapat ikan barakuda di dalamnya. Di tempat yang tidak terdapat ikan barakuda, pengunjung dapat berenang, saya mencoba masuk sebentar, bahkan tidak sampai lima menit. Biarpun pemilik tempat tersebut mengatakan bahwa hiu-hiu itu tidak menggigit, tapi tetap saja saya tidak berani karena hiu-hiu itu terus lalu lalang di sekitar saya.

Ikan Hiu yang ada di penangkaran

Di tempat yang terdapat ikan barakuda, pengunjung tidak diperbolehkan untung berenang. Menurut pak Mustakin, jika barakuda menggigit, tangan bisa putus dibuatnya. Jadi lebih baik tidak berenang kan daripada memilih kehilangan tangan :P Oiya, di tempat penangkaran ini pengunjung membayar Rp 5000,- sampai Rp 10.000,-

Ikan Barakuda yang ada di penangkaran

Sebelum meninggalkan tempat ini, saya melihat nelayan pemilik penangkaran sedang menyelam mengambil sesuatu di bawah jembatan-jembatan apung. Pak Mustakin bilang, dia sedang mengambil lato. Lato adalah salah satu tumbuhan laut yang bisa dimakan langsung. Pak Mustakin bilang, biasanya lato akan dicampur bumbu dan kelapa untuk memakannya, cara membuatnya hampir sama seperti urap. Saya dan Tuan mencoba untuk mencicipi lato, rasanya seperti jelly yang asin.

Lato yang bisa dimakan langsung
Lato yang bisa dimakan langsung

Kami meninggalkan pulau Menjangan besar dan beranjak menuju dermaga untuk kembali ke penginapan. Kulit kami mulai terasa perih setelah seharian terjemur matahari dan terkena air laut tanpa terlindungi oleh sun block. Sesampainya di penginapan, kami bergegas mandi untuk mengurangi rasa perih. Sore itu tak banyak yang kami berdua lakukan. Kami hanya memandangi foto-foto seharian itu sambil menikmati kelapa muda di penginapan. Malamnya, kami menikmati oseng cumi bikinan istri pengelola penginapan, dan tak lama setelah makan malam, kami pun terlelap setelah seharian bermain di laut :D

Menunggu senja di penginapan setelah seharian mengunjungi 4 pulau
Menunggu senja di penginapan setelah seharian mengunjungi 4 pulau

Tuan menghabiskan 3 gelas kelapa muda...
Tuan menghabiskan 3 gelas kelapa muda…

Senin kemarin, saya bangun jam 6. Pagi itu kami harus menyudahi liburan dan kembali ke kehidupan nyata, KULIAH. Karena KMC Kartini I telah bertolak hari sebelumnya menuju Semarang, maka pagi itu kami harus menyeberang ke Jepara menggunakan KMP Muria. Kami membayar Rp31.000,- per orang untuk tiket kelas ekonomi KMP Muria.

KMP Muria beranjak dari dermaga Karimun Jawa sekitar jam 9 pagi, dan sampai di pelabuhan Jepara jam 3 sore. Turun dari kapal, kami langsung mencari becak untuk mengantarkan kami ke terminal, karena kami akan melanjukan perjalanan ke Semarang. Sebelumnya kami merencanakan untuk menggunakan jasa travel, tapi sayang travel yang direkomendasikan gadis cantik asal Jepara itu sudah penuh. Akhirnya, kami menggunakan bis kecil menuju Semarang.

Perlu kalian ketahui, semua bis yang menuju Semarang dari Jepara ini, tidak ada yang menggunakan AC, hanya ada bis kecil ekonomi dengan tarif Rp 11.000,- per orang. Kami sampai di Semarang sekitar jam 5 lewat, kami langsung mencari taksi menuju TIC (Tourism Information Center) yang berada di Jalan Pemuda, Semarang. Kami memang sudah meminta tolong pada Didut untuk membelikan tiket shuttle bus Joglo Semar untuk pulang ke Jogja malam itu. Tarif shuttle bus Joglo Semar ini sebesar Rp40.000,- per orang.

Malam itu, kami sampai di Jogja juga di Jogja. Waktu saat itu menunjukkan jam 10 malam ketika saya sampai di kost. Saya langsung membongkar isi tas, mandi, chat sebentar dengan Tuan, dan akhirnya memaksa untuk beristirahat karena saya harus kuliah jam tujuh pagi.

Begitulah review trip perjalanan liburan saya kali ini. Saya tak pandai bercerita, saya berharap review liburan ini bisa membantu kalian yang ingin berlibur ke Karimun Jawa. Beberapa foto bisa dilihat di Album “Trip  To Karimun” milik Tuan di FB. Sekian.

nb: Thank’s to Gita and Didut… *salaman*