Coffee and Cream

Kemarin malam saya jalan-jalan ke blog teman lama saya, Keyza. Blognya merupakan salah satu blog yang sering saya kunjungi. Kenapa? Karena terkadang, ketika saya seringkali merasa penat, capek, dan sedih, tulisannya itu menghibur saya. Saya bisa dibuat senyum-senyum sendiri di kamar membaca tulisannya yang apa adanya dan cenderung ‘bocor’ itu.

Di salah satu postingannya saya menemukan link untuk mengunduh lagu milik Coffee and Cream. Saya yang baru pertama kali mendengar nama band itu, merasa kuno sekali tidak mengikuti perkembangan lagu-lagu sekarang. Tanpa babibu, saya langsung mengunduh lagu tersebut. Lagu pertama yang saya dengar berjudul hujan. Malam itu, saya yang memang sedang sensi berlebih, mudah marah, melow, dan sedih dua minggu ini, menjadi lumer seketika. Lagunya simple, ga macem-macem, dan memang benar apa yang dikatakan oleh Key, cocok didengar kalo lagi mellow.

Setelah selesai mendengarnya, saya langsung menghubungi Key lewat messenger malam itu juga. Saya menanyakan apakah ada lagu lain yang bisa saya dengar untuk menemani saya malam itu. Pucuk dicinta, ulam pun tiba, Key memberikan dua link lagu Coffee and Cream yang bisa saya unduh. Dua lagu tersebut berjudul Selama aku masih bisa dan Hanya padamu. Terimakasih Key, saya suka sekali lagu-lagunya… ;)

Mengikuti jejak Key, saya ingin membagi-bagikan link-nya buat kalian yang belum pernah mendengar lagunya. Key bilang, “Makin banyak yang denger, gue makin suka…”

Monggo… Silahkan diunduh…

Hujan
Selama aku masih bisa
Hanya padamu

Perempuan Air

Tak pernah terlintas di benakku untuk mengenal perempuan air itu. Ia yang selalu terlihat di tepian danau air mata ketika senja turun perlahan. Ia yang selalu berdiri mengenakan selendang sutra mambang ketika bianglala hadir menghiasi ngarai di mana ia tinggal.

Seperti sore-sore sebelumnya, perempuan air itu sudah duduk manis menunggu saat-saat rawi tenggelam. Selalu ada dua cangkir teh di meja berandanya itu, tapi tak pernah aku melihat seorangpun menemaninya.

Senja kala itu mendung, sama seperti mendung yang tampak memayungi wajahnya. Dan, wajah piraunya-lah yang membawaku menghampirinya.

“Adakah yang kau tunggu, Puan?” aku memberanikan diri bertanya.

Perempuan air itu diam. Aku cukup tahu diri bahwa kehadiranku tak diharap. Aku baru saja memutuskan untuk pulang ketika suaranya serindai terdengar, memintaku untuk singgah.

“Singgahlah, temani aku minum teh senja ini…”

Tak lama ia mulai bercerita tentang lelaki pawaka yang membuatnya masygul. Lelaki yang hanya datang untuk mengantarkan perempuan air kembali ke peraduan mimpi. Membantunya menyingkap kabut gelap yang selama ini menyembunyikan senyumnya dari sang rawi selama ini.

Sampai di satu senja, di mana musim baru saja berganti, perempuan air harus menelan kenyataan pahit bahwa ia kembali sendiri. Pagi-pagi benar lelaki pawaka telah meninggalkan sepucuk surat di kursi beranda, di mana mereka menghabiskan senja selama ini. Dalam suratnya, lelaki pawaka mengatakan bahwa ia harus pergi untuk mengejar kembali mimpi-mimpinya yang sempat tertunda. Ia pun berjanji untuk kembali menemani perempuan air menghabiskan seluruh senja di hidupnya.

Kini, ketika musim penghujan hampir datang lagi, tak satu senjapun lelaki pawaka datang mengunjungi perempuan air. Malam nanti, tepat limapuluh purnama perempuan air menantinya. Ia memang tak pernah tahu kapan lelaki pawaka akan datang. Ia hanya terus berharap bahwa lelaki pawaka akan datang di setiap senja yang dimilikinya.

Tahulah aku sekarang, mengapa ia selalu menyediakan dua cangkir teh di berandanya. Ia hanya ingin selalu siap, kalau-kalau lelaki pawaka datang tanpa memberi kabar.

Ah, andai aku menjadi lelaki pawaka, aku pasti akan lekas pulang, merebahkan diri ke pangkuan, dan sesegera mungkin melabuhkan hati ke tatapan yang hangat itu.

Suara Ipang menemani langkahku menjauhi dangau itu. Adakah lelaki pawaka mendengar lagu ini? Tahukah ia, perempuan air melangut sendiri?

“Di tengah keramaian
Suara riuh rendahnya dunia
Dan kurasa sangat sepi
Hanya suaramu ingin kudengar di kesunyian ini
Dan memecah keheningannya

Kemanapun aku pergi
Tiada tempat bisa menghiburku
Akupun semakin sepi
Hangat pelukmu ingin kurasa di malam yang dingin ini
Dan memecah kebekuannya

Takkan pernah kuberpikir berpaling darimu
Walau kesepian menyiksa
Tak sedikit ku merasa lelah denganmu
Walau kau tak ada di sini

Di antara banyaknya manusia
Berpasangan dan berbagi rasa
Aku hanya menyaksikan
Hanya dirimu yang aku tunggu
Sampai kini ku bertahan
Dan menerima kenyataan

Takkan pernah kuberpikir berpaling darimu
Walau kesepian menyiksa
Tak sedikit ku merasa lelah denganmu
Walau kau tak ada disini…“

Baju Baru Si Kecil

Akhirnya Si Kecil punya baju yang lebih centil. Yaaayyy… Senangnya saya!! Setelah menunggu sembilan hari, jadi juga softcase pesanan saya itu.

Saya memesan dua buah softcase di Rumah Warna, satu buat Si Kecil dan yang satu lagi untuk perlengkapannya, seperti charger, hard disk eksternal, dan LCD cleaning cloth. Softcase ini dibuat dengan menggunakan bahan Velboa dengan warna pink. Saya kurang tahu jenis bahan yang dipakai untuk membuat nama saya. Sebelumnya saya memesan dengan bahan flanel, tapi karena habis mereka pun menggantinya dengan yang sesuai. Sedikit kecewa memang, tapi tak apalah, toh softcase ini tidak buruk.

Selain memesan warna dan bahannya, saya juga memesan untuk menambahkan lapisan busa yang ada
di dalamnya. Ini saya lakukan untuk melindungi Si Kecil dari benturan. Jadi, sekalipun saya menggunakan tas dengan bahan yang tipis, tidak menjadi masalah lagi bagi saya.

Rumah Warna ini tidak hanya menyediakan softcase untuk notebook saja. Kalian bisa menemukan berbagai macam barang-barang lucu nan imut dengan berbagai macam warna. Mulai dari pin, key chain, box untuk kado, sampai pernak pernik kamar pun disediakan.

Ayo serbu Rumah Warna sekarang juga ;)

Teman Tidur

Siang itu, panas terik menyengat kulit saya. Saya yang sepulang dari kampus memutuskan untuk mampir sejenak ke kost Tuan untuk mengembalikan helm dan mengajaknya makan siang. Sesampainya di sana, saya hanya mendapati pintu kamar yang terkunci dari luar.

Saya bukannya datang mendadak, sehari sebelumnya saya sudah memberitahunya bahwa saya akan datang sepulangnya dari kampus. Tidak disangka-sangka, ujian hari itu hanya memakan waktu satu setengah jam, jadilah saya bisa datang lebih cepat. Bahkan sesaat sebelum meninggalkan kampus, saya mengirimkan pesan kepada Tuan bahwa saya akan datang ke tempatnya.

Namun, seperti yang saya katakan di awal tadi, saya tdak mendapati Tuan di kostnya. Ketika saya ingin menghubunginya, saya mendapati pesan baru di handphone saya.

From: Lovely, Tuan
Kok cepet banget? Aku lagi di luar :(

Saya langsung menghubunginya saat itu juga, dan percakapan singkat itu pun terjadi…

Nyonya (N) : “Kamu dimana?”
Tuan (T) : “Lah, kamu ga baca pesanku?”
N : “Iya tahu, di luar di mana? Aku dah di tempatmu nih…”
T : “Di luar. Yah, kamu cepet banget keluar ujiannya?”
N : ”Di luar mana sih?”
T : “Ah, ga mau ngasi tahu, ntar kamu marah lagi…”
N : “Koq gitu? Emangnya di mana sih?”
T : “Ah, udah ah, nanti kamu marah lagi.”
N : “Ah, ya udah deh, aku mau pulang, mau ke vito…”
T : “Ya udah, kamu pulang dulu nanti aku jemput.”
N : ”Ah, ya udahlah aku pulang.”

Kesal?? Tentu saja. Saat itu saya merasa ada yang disembunyikan dari saya. Lihat saja dari perkataannya itu. Saya lantas memutuskan untuk bergegas pulang saat itu juga.

Sesampainya di kost, saya melihat handphone. Ada dua pesan baru dan satu panggilan tak terjawab dari Tuan.

From : Lovely, Tuan
Maaf yah.. Aku keluar ga bilang. Ntar aku certain deh. Abis aku kira kamu jadi ikut rapat :(

From : Lovely, Tuan
Kamu dimana? Aku jemput ke tempatmu sekarang deh..

Belum lagi saya sempat membalas, Tuan sudah menghubungi saya lagi. Ia mengatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju kost saya. Tak sampai limabelas menit berlalu, Tuan menghubungi lagi. Ia mengatakan bahwa ia sudah sampai.

Saya bergegas keluar kamar membukakan pintu gerbang kost. Sesampainya di luar, saya tidak mendapati motor Tuan, saya hanya melihat sebuah taksi berwarna pink berhenti di depan kost. Bersamaan dengan saya membuka gerbang, pintu taksi tersebut juga terbuka dan Tuan pun muncul dari dalamnya dengan Si Besar itu beserta satu buket bunga mawar.

“Nih, buat kamu…” hanya itu yang ia katakan sambil melempar senyum usil khasnya itu.

Sesaat saya terdiam. Saya tahu, laki-laki di hadapan saya ini tidak pandai berkata-kata romantis seperti sang lelananging jagad. Akan tetapi, perlakuan-perlakuannya yang manis kepada saya itu yang selalu membuat saya tidak ingin jauh-jauh darinya. Ini bukan pertama kali ia melakukan hal seperti ini kepada saya, dan ia selalu sukses membuat saya terkejut.

Kini, saya punya teman tidur baru. Tempat tidur saya yang sebelumnya sudah penuh dengan beberapa boneka, kini terlihat penuh dengan hadirnya Si Besar. Ah, tak apalah saya tidur bersempit-sempitan dengan boneka-boneka itu, setidaknya Si Besar bisa menjadi tempat memeluk di kala malam menjemput.

Thanks a lot, Dear
I do love you… *hugs*

Si Besar

Si Kecil

Karena tergiur postingan wanita cantik nan baik hati ini, saya lantas mengajukan proposal ke Papa untuk mengganti si Besar yang setia menemani dalam perjuangan akademis selama empat tahun ini. Memang berat melepasnya, tapi karena pertimbangan berat badan dan umur ekonomisnya yang sudah hampir habis, saya pun merelakannya.

Setelah agak kapok dengan ukuran si Besar, saya memutuskan untuk menggantinya dengan netbook yang imut-imut nan rupawan. Setelah proposal diseutujui, saya mereview beberapa netbook incaran. Karena saya tidak begitu paham dengan urusan gadget, jadilah saya merepotkan Tuan di sela-sela kesibukan menjelang kepergiaannya ke Bandung sekitar dua minggu yang lalu.

Pada akhirnya, saya memilih si Kecil ini. Karena menurut Tuan, si Kecil ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan netbook yang lainnya. Sebelum memeluk si Kecil, saya harus rela melakukan segala macam aktivitas yang berhubungan dengan koneksi internet melalui handphone selama beberapa hari. Hal ini disebabkan karena si Besar sudah tidak bersama saya lagi. Selain itu, saya ingin Tuan menemani saya pada saat pengambilan si Kecil, jadi saya harus menunggu sekembalinya dari Bandung.

Dan sekarang, saya ingin memperkenalkan dia yang akan menemani saya selama beberapa tahun ke depan dalam menjalani dunia akademis, per-milisan, per-blog-an, per-YM-an, per-fesbuk-an, per-twitter-an, per-plurk-an, dan masih banyak ‘per-‘ lainnya.

Selamat Datang, si Kecil… *peluk-peluk*

gambar dipinjam dari sini.