Lagi Bego

Colby Caillat-Magic

You’ve got magic inside your finger tips
It’s leaking out all over my skin
Everytime that I get close to you
Your makin’ me weak with the way you
Look through those eyes

And all I see is your face
All I need is your touch
Wake me up with your lips
Come at me from up above
Yeaaaa, oh I need you

I remember the way that you move
Your dancin’ easily through my dreams
It’s hittin’ me harder and harder with all your smiles
You are crazy gentle in the way you kiss

All I see is your face
All I need is your touch
Wake me up with your lips
Come at me from up above

Oh baby I need you
To see me, the way I see you
Lovely, wide awake in
The middle of my dreams

And all I see is your face
All I need is your touch
Wake me up with your lips
Come at me from up above

All I see is your face
All I need is your touch
Wake me up with your lips
Come at me from up above
Yeaaaa, oh oh da da da do do do do do
Ahhhhhh, I… I need you

I just need you, Dear.
Need your big hugs…

Setan Kecil

Satu jam yang lalu papa telpon saya. Seperti biasa ia hanya menanyakan kabar, karena anaknya yang tinggal seorang ini sudah tidak menelpon atau mengirimkan pesan sejak 3 hari yang lalu. Kami berbincang persoalan kuliah dan psikotes yang minggu depan akan saya jalani.

Saya mendengar ada suara mama di belakangnya, sedang bercengkerama dengan anak kecil. Ternyata di rumah sedang ada Louis si setan kecil. Tak lama papa memanggilnya untuk berbincang dengan saya di telpon. Bibir kecilnya itu menggumamkan kata-kata yang belum jelas terdengar, itupun papa harus mengajarinya.

Mendengar suaranya itu, saya jadi ingat ketika saya pulang ke rumah Natal kemarin. Saya hanya bertemu satu hari saja dengan Louis. Ia dan keluarganya harus berangkat ke rumah Opung (kakek-nenek)-nya untuk merayakan Natal di Sumatera Utara. Biasanya, kalau saya menghabiskan liburan di rumah, setiap hari saya selalu ada Louis. Ketika mama sudah menyerah untuk membangunkan saya, mama akan menjemput Louis dan mengajaknya ke rumah untuk membangunkan saya. Karena biarpun bibirnya mungil, suaranya itu membahana di seluruh sudut rumah.

Saya jadi ingin pulang ke rumah ^_^
Wait for me, Setan Kecil…

Rembulan

Angin bertiup tidak terlalu kencang. Meskipun ini musim penghujan, tak tampak awan yang bermuram durja. Perempuan rembulan memutuskan untuk menikmati sore di taman kota.

Di bangku taman, tempat ia duduk, ia menemukan satu bait kata-kata tertulis di sana.

Malam…
Malamku…
Beraja, di mana kamu?
Jangan tinggalkan aku…
Rasanya sepi sekali di sini!!!

Ia terdiam, menyandarkan daksa ke bangku taman. Sekali lagi, ia mencoba mengulangi membaca kata-kata itu. Kali ini tidak hanya dalam hati, perlahan ia mengeluarkan suaranya yang lembut.

Malam…
Malamku…
Beraja, di mana kamu?
Jangan tinggalkan aku…
Rasanya sepi sekali di sini!!!

Perempuan rembulan menerawang jauh. Dulu sekali, ia pernah bertemu dengan seorang lelaki pencinta ilalang. Tak banyak kata saat itu, hanya sapa biasa dan tatapan mata yang beradu. Tatap mata yang selalu membuatnya merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik dalam perutnya, dan membuatnya tersenyum.

Bulan berganti, entah sudah berapa purnama terlewati. Lelaki pencinta ilalang datang menghampiri, menawarkan perempuan rembulan satu tempat layak huni di hatinya.

“Maukah kau menjadi rembulan di setiap malamku, wahai juwita? Menyinariku hingga malam takkan lagi pernah hadir untuk kita.”

Sejak itu, perempuan rembulan tidak pernah melewati malam-malamnya sendiri. Selalu ada lelaki pencinta ilalang yang hadir dengan berbagai persediaan dongeng untuk mengantarkannya ke peraduan.

Hingga di satu malam, di mana ratusan purnama sudah berlalu dan ribuan kisah sudah ter-rajut. Perempuan rembulan tidak dapat menemukan lelaki pencinta ilalang. Lelaki itu telah beranjak pergi bersama dengan berlalunya purnama di malam yang lengas itu.

“Malam masih hadir untuk kita, mengapa engkau pergi?” Perempuan rembulan hanya bertanya dalam hati.

Di bangku taman kota yang termakan usia, perempuan rembulan itu masih duduk menikmati senja yang hampir habis. Ia tersenyum menghibur diri, dan meyakinkan hati bahwa lelaki pencinta ilalang takkan pernah kembali.

Kisah Asmara

Kemarin saya pergi keluar dengan dua teman kuliah S-1 saya. Sebut saja Dino dan Deni. Saya sengaja tidak memberitahukan nama asli mereka, karena mungkin mereka tidak ingin nama aslinya disebut.

Siang itu kami mencari tempat yang nyaman untuk berbincang dan makan siang. Kami berbincang banyak hal. Namun, pembicaraan kami kebanyakan mengarah ke kisah asmara kami masing-masing, serta kisah asmara teman kami yang lain, sebut saja Didi.

Dino. Di bulan Desember kemarin, pernikahannya dibatalkan. Pembatalan ini merupakan yang kedua kalinya. Pembatalan pertama dikarenakan sang kekasih yang merasa belum siap untuk menikah. Pada saat itu rencana pernikahan baru mulai disiapkan. Pembatalan kedua dikarenakan keluarga dari pihak pria yang tiba-tiba tidak menyetujui. Padahal, rencana pernikahan mereka sudah mendekati selesai. Undangan sudah dicetak, namun belum disebar, katering dan gedung telah dipesan, dan tak ketinggalan cincin kawin pun telah dibeli.

Sedih? Tentu saja. Karena hubungan yang telah dibina lebih dari 4 tahun itu kandas begitu saja. Akhirnya, Dino dan kekasihnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Sekarang ini, Dino harus menghadapi keluarganya yang mencoba menjodohkannya dengan seorang wanita supaya ia dapat melupakan mantan kekasihnya. Saya hanya berusaha menghibur dan menguatkan hatinya supaya ia tidak terlalu larut dalam kesedihan. Dan ia pun hanya berkomentar , “Ya ga semudah itu, Tet…”

Deni. Tak banyak kisah asmara darinya. Ia tak mudah mendapatkan wanita yang cocok dengan hatinya. Selama 4 tahun saya mengenalnya, ia memang mendekati beberapa wanita. Dan yang saya tahu hanya seorang wanita yang sempat menjadi kekasih hatinya, dan itupun hanya bertahan satu bulan.

Didi. Siang itu, Dino dan Deni banyak menceritakan kisah asmara Didi. Tentang kegilaan Didi terhadap sang kekasih, sehingga ia rela untuk melakukan apa saja demi mempertahankan hubungannya. Saya dipertunjukkan sebuah video oleh Dino dan Deni. Di dalam video itu saya melihat Didi berjalan-jalan di dalam Ambarukmo Plaza dengan sebuah papan di dadanya yang berisi foto-foto Didi dan kekasihnya serta tulisan-tulisan yang menggambarkan bahwa Didi sangat menyayangi kekasihnya itu.

Saya melihat wajah Didi di dalam video itu sangat tertekan. Ia melakukan itu hanya untuk mendapatkan maaf dari kekasihnya. Saya tidak sampai hati untuk melihat video itu sampai selesai. Dino dan Deni juga menceritakan bahwa Didi pernah membeli fastfood dengan hanya menggunakan celana boxer sambil berjoget-joget di depan orang-orang. Dan lagi-lagi, semua itu dilakukan hanya untuk mendapatkan kata maaf.

Saya sungguh tidak mengerti apa yang terjadi dengan Didi. Saya tidak bisa mendapatkan alasan yang paling masuk akal mengapa ia bisa melakukan hal-hal yang menurut saya sangat konyol untuk dilakukan. Ditambah lagi penjelasan Dino dan Deni tentang kekasih Didi yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh berkomitmen dengan Didi, namun Didi tetap mempertahankannya. Entahlah, otak dan hati Didi perlu disinkronisasi sepertinya.

Sedangkan saya sendiri, tak banyak kisah yang saya ceritakan. Cukuplah mereka tahu kalau kini saya sangat beruntung memiliki Tuan di hati saya. Dan hanya dengan melihat air muka saya, merekapun mengiyakan pernyataan saya itu.

Itulah kisah asmara saya dan teman-teman saya, yang terangkum dalam 6 jam pertemuan saya dengan Dino dan Deni. Bagaimana kisah asmara kalian?

Tujuh Keajaiban Dunia

Apa yang terlintas di pikiran kalian jika mendengar “tujuh keajaiban dunia” ? Tembok besar di China, Patung Kristus Penebus di Brazil, Taj Mahal di India, atau Colosseum di Roma?? Apakah itu semua benar-benar keajaiban dunia yang bisa kita temui??

Kemarin, seperti biasa saya dan Tuan pergi ke gereja bersama. Dalam kotbah saya diingatkan bahwa ternyata ada hal-hal yang sesungguhnya merupakan keajaiban dunia yang selama ini lepas dari perhatian kita.

Keajaiban pertama, melihat. Kita diberikan dua mata indah yang bisa kita gunakan untuk melihat orang-orang yang kita kasihi. Menyaksikan apa saja yang terjadi di sekeliling kita seperti, mengikuti pertumbuhan anak-anak kita, atau mungkin melihat perubahan alam yang terjadi.

Keajaiban ke-dua, berbicara. Senang sekali rasanya jika kita bisa saling mengungkapkan apa yang ada di hati dan pikiran kita melalui berbicara. Bisa bercakap-cakap dengan orang tua, saudara, kerabat dan sahabat kita.

Keajaiban ke-tiga, mendengar. Hari jum’at lalu saya bertemu dengan teman lama saya. Saya sungguh tidak menyangka akan bertemu dengannya di kampus baru saya. Kami bertukar sapa, saling menanyakan keadaan. Tak lama, ia mulai menceritakan tentang hubungannya dengan sang kekasih yang ternyata tak berjalan lancar. Saya hanya mendengarkan dan berusaha menguatkannya supaya tidak sedih. Saya sangat bersyukur, saya masih diberikan keajaiban ini. Dengan begitu saya bisa menjadi tempat keluh kesah teman-teman saya yang sedang berbeban berat.

Keajaiban ke-empat, menyentuh. Apa yang kalian pikirkan bila kalian tak lagi dapat merasakan pipi, tangan, atau apa saja yang bisa kalian sentuh?

Keajaiban ke-lima, mencintai. Apa yang terjadi di dunia ini bila tak ada cinta? Yang jelas saya pasti tidak akan pernah merasakan apa yang namanya hidup. Karena jika papa dan mama saya tak saling cinta, saya tidak akan pernah ada di dunia ini.

Keajaiban ke-enam, tertawa. Selama kalian masih bisa tersenyum ikhlas dan tertawa lepas, berbahagialah!! Tak semua orang bisa merasakannya di situasi kehidupan dunia yang semakin sulit ini.

Keajaiban ke-tujuh, memiliki-Nya. Sejujurnya saya merasa tidak layak untuk memiliki-Nya. Begitu banyak kesalahan yang saya lakukan. Saya berpaling dari hadapan-Nya. Saya tidak melakukan apa yang menjadi perintah-Nya. Namun, sunguh besar kuasa-Nya, sehingga Ia masih mau merangkul dan terus mengingatkan saya untuk tetap berjalan bersama-Nya.

Bersyukurlah, jika kalian masih bisa merasakan tujuh keajaiban ini. :)