Esok Akan Tetap Ada

Senja sudah menyambut, tapi perempuan itu masih saja duduk memandangi hujan yang tak kunjung berhenti dari balik kaca sebuah coffeshop. Entah sudah berapa lama ia duduk di sana. Remang cahaya tempat itu membuatnya merasa nyaman. Dengan begitu orang-orang di dalam coffeshop itu tidak akan memperhatikan wajah yang didera gundah.

Perempuan itu duduk bersama sahabat kecilnya. Tak ada yang dibicarakan sejak mereka sampai di sana. Sahabatnya tahu, perempuan itu ingin menceritakan sesuatu. Namun ia tak tergesa bertanya, ia tahu perempuan itu butuh waktu untuk menata suasana. Ia hanya diam, menunggu perempuan itu membuka mulutnya.

“Hampir saja…” perempuan itu memulainya.

“Hampir saja, kesalahan itu terulang lagi. Padahal aku sudah berjanji. Kamu masih ingat janjiku?” ditambahkannya lagi. Ia memalingkan muka ke arah sahabatnya sesaat, lalu kembali memandangi hujan.

Ia diam. Tak dilanjutkan lagi kata-katanya.

Sahabatnya menunggu sejenak sembari diteguknya hot chocolate yang mulai dingin. Ia berharap perempuan itu melanjutkan kalimatnya, tapi ternyata tidak. Tak lama, sahabatnya itu pun berkata, “Kita hanya manusia biasa. Dan godaan akan selalu datang merayu. Tapi aku tahu kamu bisa…”

“Bisa. Sampai hari ini aku masih bisa. Itupun sudah dua kali hampir ku ingkari janjiku sendiri. Lalu, bagaimana dengan esok?” perempuan itu menyela dan setengah berteriak sebelum sempat sahabatnya itu menyelesaikan kalimatnya. Ia menoleh ke arah sahabatnya sekejap, menatap matanya, lalu kembali memandangi hujan yang semakin deras.

“Aku memang hanya janji pada diriku sendiri. Tapi sungguh aku tak ingin kebodohan-kebodohan masa lalu itu terulang lagi.” lanjut perempuan itu lagi.

“Esok akan tetap datang, Nduk. Dan kamu akan tetap menunaikan janjimu. Ada aku, sahabatmu. Ada dia, yang kamu cintai. Ada mereka, yang kamu sayangi. Dan kami, akan selalu ada.” lembut suara sahabatnya itu, seperti ada sebentuk kehangatan yang menjalar.

Tak ada bantahan lagi. Hanya sedikit senyum menyembul di wajah perempuan itu. Tak banyak memang, tapi sahabatnya tahu perempuan itu tak membutuhkan lagi remang cahaya.

A friend in need is a friend indeed.

Memenangkan Hati

Bukan karena parasmu yang jelita,
aku membanggakanmu.
Bukan pula antrean panjang lelaki yang mengharapmu,
yang membuatku berlomba-lomba memenangkan hatimu.
Tapi karena kebesaran hati menerima apa adanya hidup,
yang mengantarkanku sampai di hadapanmu.

*terinspirasi dari pembicaraan dengan Tuan di YM beberapa saat lalu*

Lelah

Bapa,
Sungguh lelah aku berdoa
Melafalkan semua yang ada di hati
Mencari jawaban pasti atas asa-asa yang mengabur sebelum selesai doaku ini.

Bapa,
Sungguh lelah aku berdoa.
Telah habis semangat untuk menenangkan jiwa
Telah habis suara untuk menyampaikan penat di kepala

Bapa,
Sungguh lelah aku berdoa
Namun, tak pernah ada alasan untuk tidak menemuiMu
Sudahlah, Amin saja.

Koordinasi yang Uaneh Pwol

Kemarin saya mengambil kartu ujian tertulis BPK di kantor BPK Yogyakarta. Menurut pengumuman yang saya baca di website BPK, pengambilan kartu tersebut dimulai dari jam 9.00-15.00 untuk jurusan akuntansi, manajemen dan hukum. Jadilah kemarin pagi saya berangkat jam setengah 9 dari kost, dengan perkiraan perjalanan akan memakan waktu setengah jam menggunakan motor. Dan sesampainya disana, mulailah timbul masalah.

Belum lagi saya memarkir motor, seorang satpam yang bertugas memberikan karcis parkir yang bertanya, “Mau ke mana mbak?”. “Mau ngambil kartu ujian, Pak.” jawab saya. “Ga boleh pake jeans mbak!” katanya lagi dengan nada yang meninggi. Saya ingat betul bahwa tidak ada ketentuan dalam pengumuman yang mengatur pakaian yang digunakan pada saat mengambil kartu ujian, yang diatur hanyalah pakaian pada saat tes tertulis minggu depan. Dan pada saat itu saya melihat ada banyak orang yang menggunakan jeans di sana. Namun, saya hanya terdiam dan mencoba berpikir positif, mungkin memang saya yang salah dengan memakai jeans. Saat itu juga saya langsung pulang ke kost untuk mengganti pakaian.

Sepanjang jalan pulang ke kost, saya hanya merutuki kebodohan saya memakai jeans pagi itu. Menurut saya, perjalanan menuju kost itu jauh, saya membutuhkan waktu satu jam untuk bolak-balik dari kost ke kantor BPK. Dan saya telah membuang-buang waktu dan bensin karena saya pikir saya telah melakukan kebodohan. Saya berusaha menghibur hati saya, anggap saja ini salah satu tantangan yang harus saya lalui demi tes BPK ini. Saya pulang, mengganti pakaian, dan kembali ke kantor BPK lagi.

Jam tangan saya menunjukkan pukul setengah sebelas siang ketika saya sampai di kantor BPK untuk yang kedua kalinya. Saya segera masuk dan naik ke lantai dua untuk mengantri mengambil kartu ujian. Dan, kalian tahu apa yang saya lihat di sana?? Begitu banyaknya orang yang memakai celana jeans. Ya, CELANA JEANS!!! “Damn It!!!” saya mengumpat dalam hati. Dan dengan cepatnya saya meraih handphone, sesegera mungkin meluapkan kemarahan saya di plurk.

Sebisa mungkin saya tahan kemarahan saya, karena saya tidak mau proses pembelajaran meredam emosi *khusus marah* selama setahun ini hilang dalam sekejap. Sesegera mungkin saya menyelesaikan pengambilan kartu ujian itu. Setelah semuanya selesai, saya turun ke lantai satu, tapi saya tidak langsung pulang. Saya mencari satpam yang telah menegur saya tadi. Sempat terpikir, kalau dia sudah berganti shift, atau sedang pergi entah kemana.

Beruntungnya saya, tak lama mata saya menangkap laki-laki itu. Saya pun menghampirinya dan memulai percakapan. “Mas, tadi mas yang bilang sama saya kalau ga boleh pakai celana jeans kan?” saya berusaha sesopan mungkin bertanya. “Iya mbak. Ada apa?” nadanya sedikit meninggi. “Mas, kost saya jauh lho. Saya rela pulang hanya untuk mengganti celana. Tapi pas saya balik kesini, saya melihat banyak sekali orang yang pakai celana jeans dan mereka diperbolehkan masuk.” saya tetap menjaga intonasi suara saya agar tak meninggi. “Ya gimana ya mbak, tadi pagi saya dapat koordinasi dari panitia kalau boleh pake celana jeans, jam 9 saya dapat koordinasi lagi kalau tidak boleh, jam setengah 11 saya dapat koordinasi lagi kalo boleh pake celana jeans.” katanya dengan nada yang masih tetap tinggi. Saya berusaha membela diri, “Tadi pas saya datang ke sini pertama kali, sudah banyak yang pakai celana jeans, dan mereka boleh masuk. Mengapa saya disuruh pulang?”. “Ya saya ga tahu mbak, namanya juga koordinasi dari panitia, mbak tanya aja sana sama temen saya!!!” dia membentak. Saya marah. Saya berusaha bertanya dengan baik dan sopan, namun satpam itu membalas dengan bentakan. Dan saya pun mulai perang mulut dengannya, “Koq Mas nyolot?”. “ Lho mbaknya nyolot duluan”. “Nada saya nyolot apa? Saya ngomong baik-baik ya tadi!”. “Ah, mbak tanya sama temen saya aja deh.” dia meninggalkan saya seketika itu juga. Temannya menghampiri dan berusaha menjelaskan. Saya hanya bilang dengan nada sengak, “Oh, ya udah. Makasih.”

Saya pulang dengan kekecewaan. Sepanjang jalan, saya masih mengingat-ingat kejadian tadi. Jadi kesalahan ada di siapa? Apakah satpam itu yang salah menerima koordinasi? Padahal notabenenya mereka hanya orang kecil yang disuruh-suruh di instansi-instansi pemerintah. Atau, panitia-panitia itu yang tidak memberikan koordinasi dengan baik? Padahal, mereka merupakan bagian dari aparatur negara yang telah melalui tahap panjang untuk bisa bekerja di instansi pemerintah. Pertanyaan besar timbul di benak saya, sebegitu parahnya-kah SDM instansi pemerintah kita?? Untuk melakukan koordinasi pengambilan kartu ujian saja tidak becus. Apakah mereka tidak pernah mendapatkan pendidikan untuk berorganisasi pada saat mereka kuliah atau setidaknya pada saat pendidikan PNS dulu??

Akh, sudahlah Tet. Cukup sudah meracaunya.
Takkan ada habisnya membahas instansi pemerintah beserta isinya itu…